Cara membuat fermentasi rumput ternak dapat menjadi solusi untuk menjaga persediaan pakan ketika rumput segar sulit diperoleh. Fermentasi rumput, yang sering disebut silase, membantu mengawetkan hijauan melalui proses pengasaman dalam kondisi minim oksigen.
Cara ini juga membantu peternak memanfaatkan rumput yang tersedia dalam jumlah banyak sehingga persediaan pakan dapat bertahan lebih lama. Fermentasi membutuhkan bahan yang masih segar dan bebas dari kotoran.
Peternak perlu memperhatikan kebersihan bahan, ukuran cacahan, kadar air, serta kondisi wadah. Setiap tahap tersebut memengaruhi kualitas pakan yang akan diberikan kepada ternak.
1. Siapkan Bahan dan Peralatan
Siapkan rumput segar sebagai bahan utama. Peternak dapat menggunakan rumput gajah, rumput odot, rumput Pakchong, kolonjono, atau hijauan lain yang sesuai dengan kebutuhan ternak. Pilih rumput yang masih segar dan tidak tercampur tanah, plastik, batu, maupun benda asing lainnya.
Siapkan pula dedak sebagai bahan tambahan. Molase atau larutan sumber gula dapat membantu menyediakan sumber energi bagi mikroorganisme selama fermentasi.
Jika menggunakan starter seperti EM4, ikuti petunjuk penggunaan pada kemasan. Untuk wadah, gunakan tong, drum plastik, atau kantong plastik tebal yang dapat tertutup rapat.
2. Cacah Rumput Secara Merata
Bersihkan rumput terlebih dahulu, kemudian cacah menjadi potongan berukuran sekitar 5–10 cm. Ukuran tersebut memudahkan peternak mencampur bahan dan memadatkan rumput dalam wadah. Potongan yang terlalu panjang membuat proses pemadatan lebih sulit karena masih menyisakan banyak ruang udara.
Peternak dapat menggunakan parang untuk jumlah rumput yang sedikit. Untuk kebutuhan pakan dalam jumlah besar, mesin pencacah rumput dapat mempercepat pekerjaan dan menghasilkan ukuran potongan yang lebih seragam.
Jika ingin mengenal pilihan hijauan lain untuk pakan, Anda juga dapat membaca informasi tentang rumput kolonjono untuk pakan ternak.
3. Campurkan Bahan Fermentasi
Letakkan rumput yang sudah tercacah pada permukaan yang bersih. Tambahkan dedak dan bahan pendukung sesuai formulasi yang digunakan. Jika peternak menggunakan larutan starter, campurkan secara merata agar seluruh bagian rumput memperoleh bahan fermentasi.
Aduk campuran secara perlahan sampai tidak ada bagian yang menggumpal. Perhatikan kelembapan bahan karena rumput yang terlalu basah dapat meningkatkan risiko pembusukan. Sebaliknya, bahan yang terlalu kering dapat membuat proses fermentasi berjalan kurang optimal.
4. Padatkan dalam Wadah
Masukkan campuran rumput secara bertahap ke dalam wadah. Padatkan setiap lapisan sebelum menambahkan lapisan berikutnya. Tekanan tersebut membantu mengeluarkan udara dari sela-sela rumput sehingga kondisi anaerob dapat terbentuk.
Setelah seluruh bahan masuk, tekan kembali bagian atas rumput.
Pastikan wadah tersegel dengan kedap untuk mencegah masuknya udara dari luar. Hindari membuka wadah selama proses fermentasi karena udara dapat mengganggu proses pengawetan dan meningkatkan risiko pertumbuhan jamur.
5. Simpan dan Periksa Hasil
Simpan wadah di tempat teduh yang terlindung dari hujan dan panas matahari langsung. Lama fermentasi bergantung pada bahan, formulasi, dan metode yang digunakan. Beberapa metode pembuatan silase membutuhkan beberapa minggu hingga pakan mencapai kondisi yang siap digunakan.
Setelah masa fermentasi selesai, buka wadah dan periksa kondisinya. Silase yang baik umumnya memiliki aroma asam yang khas, tekstur tidak berlendir, serta tidak menunjukkan pertumbuhan jamur berlebihan. Warna dapat berubah dari hijau segar menjadi hijau kekuningan atau kecokelatan.
Ambil pakan secukupnya sesuai kebutuhan ternak, lalu tutup kembali wadah dengan rapat. Jangan mencampurkan silase yang menunjukkan tanda pembusukan atau pertumbuhan jamur dengan pakan yang masih baik.
Kesimpulan
Cara membuat fermentasi rumput ternak memerlukan rumput segar, pencacahan yang tepat, pencampuran merata, pemadatan, dan wadah kedap udara. Proses yang terjaga membantu peternak menyimpan hijauan sebagai persediaan pakan saat rumput segar terbatas.





